Jumat, 30 Oktober 2015

ANALISA BREAK-EVEN

ANALISA BREAK-EVEN

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok
mata kuliah Manajemen Keuangan II

Dosen Pengampu :
Dian Wismarein, SE. MM
Drs. Mohammad Masruri, SE. MM
Disusun Oleh :
Kelompok 9 V.C
1.      Abid Fairus Falih            2012-11-262
2.      Fahrul Rosyid                 2012-11-269
3.      Tunggul Bayu Aditama  2012-11-275
4.      Devi Aramita                  2012-11-276
5.      Eka Neta Putri                2012-11-277

Progdi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas muria kudus
2014

ANALISA BREAK-EVEN
22.1.      Pengertian Analisa Break-Even
            Analisa Break-Even adalah suatu teknik analsisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variable, keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena analisa tersebut mempelajari hubungan antara biaya keuntungan – volume kegiatan, maka analisa tersebut sering pula disebut “Cost – Profit – Volume analysis” (C.P.V. analysis). Dalam perencanaan keuntungan, analisa break-even merupakan “profit-planning approach” yang mendasarkan pada hubungan antara biaya (cost) dan penghasilan penjualan (revenue).
            Apabila suatu perusahaan hanya mempunyai biaya variable saja, maka tidak akan muncul masalah break-even dalam perusahaan tersebut. Masalah break-even baru muncul apabila suatu perusahaan di samping mempunyai biaya variable juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya variable secara totalitas akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi, sedangkan besarnya biaya tetap secara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada perubahan volume produksi.
Adapun biaya yang termasuk golongan biaya variable pada umumnya adalah bahan mentah, upah buruh langsung (direct labor), komisi penjualan. Sedangkan yang termasuk golongan biaya tetap pada umunya adalah depresiasi aktiva tetap, sewa, bunga utang, gaji pegawai, gaji pinjaman, gaji staf research, dan biaya  kantor.
            Karena adanya unsure variable di satu pihak dan unsure tetap di lain pihak, maka dapat terjadi bahwa suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu menderita kerugian, karena penghasilan penjualannya hanya menutup biaya variable dan sebagaian saja dari biaya tetap. Ini berarti bahwa bagian dari penghasilan penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap tidak cukup untuk menutup biaya tetapnya. Penghasilan penjualan setelah dikurangi biaya variable merupakan bagian  dari penghasilan penjualan yang tersedia untuk m entupu biaya tetap biasanya dinamakan “contribution margin” atau “contribution to fixed cost”. Apabila contribution margin lebih besar daripada biaya tetap, berarti penghasilan penjualan lebih besar daripada biaya total, maka perusahaan mendapatkan keuuntungan. Berhubung dengan itumaka sangatlah penting bagi pimpinan suatu perusahaan untuk mengetahui pada volume kegiatan atau volume produksi penjualan berapa penghasilan penjualan dapat tetap menutup biaya totalnya untuk dapat menghindarkan kerugian. Volume penjualan di mana penghasilannya (revenue) tepat sama besarnya dengan biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mendapatkan keuntungan atau menderita kerugian dinamakan “break-even pint”. Apabila digunakan konsep “contribution margin” maka break – even point akan tercapai pada volume penjualan dimana contribution margin-nya tepat sama besarnya dengan biaya tetap-nya. Oleh karena analisa break-even itu mempelajari pertimbangan antara “revenue minus biaya variable (=contribution to fixed cost) di satu pihak dengan biaya tetap dilain pihak, maka sering dikatakan bahwa analisa break even merupakan salah satu alat untuk mempelajari “operating leverage”.  Operating leverage terjadi setiap waktu di mana suatu perusahaan mempunyai biaya tetap yang harus ditutup batapapun besar volume kegiatannya. “leverage” dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana untuk penggunaan mana perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap.  Ada dua macam leverage, yaitu “operating leverage” dan “vinancial leverage”. Operating leverage bersangkutan dengan penggunaan aktiva atau operasinya perusahaan yang disertai dengan biaya tetap. Dikatakan bahwa operating leverage itu menghasilkan leverage yang “favorable” atau positif kalau revenue setelah dikurangi biaya variable (=contribution to fixed cost) lebih besar daripada biaya tetapnya.
Dikatakan bahwa operasi perusahaan yang disertai dengan biaya tetap itu (operating leverage) merugikan atau menghasilkan leverage yang negative kalau “contribution to fixed cost”-nya lebih kecil daripada biaya tetapnya. Dikatakan bahwa operasi perusahaan yang disertai dengan biaya tetap itu dalam keadaan break-even kalau “contribution to fixed cost”-nya tepat sama besarnya dengan biaya tetapnya sebagaimana telah diuraikan di muka. Uraian mengenai financial leverage akan diberikan dalam Bab 23.
            Dalam mengadakan analisa break-even, digunakan asumsi-asumsi dasar sebagai berikut:
a.             Biaya di dalam perusahaan dibagi dalam golongan biaya variable dan golongan biaya tetap.
b.            Besarnya biaya variable secara totalitas berubah-ubah secara proporsionil dengan volume produksi/penjualan. Ini berarti bahwa biaya variable per unitnya adalah tetap sama.
c.             Besarnya biaya tetap secara titalitas tidak berubah meskipun ada perubahan volume produksi/penjualan. Ini berarti bahwa biaya tetap per unitnya berubah-ubah karena adanya perubahan volume kegiatan.
d.            Harga jual per unit tidak berubah selam periode yang dianalisa.
e.             Perusahaan hanya memproduksir satu macam produk. Apabila diprodusir lebih dari satu macam produk, pertimbangan penghasilan penjualan antara masing-masing produk atau “sales mix”-nya adalah tetap konstan.

22.2.      Gambar Break Even (Break-Even Chart)
            Salah satu cara untuk menentukan break-even point adalah dengan membuat gambar break-even. Dalam gambar tersebut akan Nampak garis-garis biaya tetap, biaya total yang menggambarkan jumlah biaya tetap dan biaya variable, dan garis penghasilan penjualan.
Besarnya volume produksi/penjualan dalam unit Nampak pada sumbu horizontal (sumbu X) dan besarnya biaya dan penghasilan penjualan akan Nampak pada sumbu vertical (sumbu Y).
Dalam gambar break-even tersebut break-even point dapat ditentukan, yaitu pada titik dimana terjadi persilangan antara garis penghasilan penjualan dengan garis biaya total. Apabila dari titik tersebut kita tarik garis lurus vertical ke bawah sampai sumbu X akan nampak besarnya break-even dalam unit. Kalau dari titik itu ditarik garis lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan nampak besarnya break-even dalam rupiah.
Dalam menggambarkan garis biaya tetap dalam gambar break-even itu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya tetap secara horizontal sejajar dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan garis biaya tetap sejajar dengan garis biaya variable. Pada cara yang kedua, besarnya “contribution margin” akan nampak pada gambar break-even tersebut.
Untuk lebih jelasnya dapatlah diberikan contoh di bawah ini.
Contoh 22.1.
            Suatu perusahaan bekerja dengan biaya tetap sebesar Rp300.000,00. Biaya variable per unit Rp40,00.
Harga jual per unit Rp100,00.
Kapasitas produksi maksimal 10.000 unit.
Dengan dua cara dalam menggambarkan garis biaya tetap, atas dasar data tersebut, kita dapat membuat dua gambar break-even seperti nampak di bawah ini.
Dari kedua gambar tersebut di atas nampak bahwa break-even point tercapai pada volume penjualan sebesar Rp500.000,00 atau dinyatakan dalam unit sebanyak 5.000 unit. Pada gambar 22.1.b. adalah lebih baik karena pada gambar tersebut nampak konsep “contribution margin”. Dalam gambar tersebut break-even point tercapai pada volume kegiatan di mana contribution margin (yaitu penghasilan penjualan minus biaya variable) tepat sama besarnya dengan biaya tetap, yaitu pada volume penjualan Rp500.000,00 atau dalam unit sebanyak 5.000 unit.
Perhitungan break-even point lebih tepat dapat dilakukan dengan cara “trial and error” (serba coba-coba) atau dengan menggunakan rumus-rumus aljabar.
22.3.    Perhitungan Break-Even Point dengan Cara “Trial and Error”
Perhitungan break-even point dapat dilakukan dengan cara coba-coba, yaitu dengan menghitung keuntungan operasi dari suatu volume produksi/penjualan tertentu. Apabila perhitungan tersebut menghasilkan keuntungan maka diambil volume penjualan/produksi yang lebih rendah. Apabila dengan mengambil suatu volume penjualan tertentu, perusahaan menderita kerugian maka kita mengambil volume penjualan/produksi yang lebih besar. Demikian dilakukan seterusnya hingga dicapai volume penjualan/produksi di mana penghasilan penjualan tepat sama dengan besarnya biaya total.
Misalkan dari contoh 22.1. diambil volume produksi 6.000 unit. Dengan volume produksi 6.000 unit maka dapat dihitung keuntungan operasi sebagai berikut:
(6.000 x Rp100,00) – Rp300.000,00 + (6.000 x Rp40,00) )  =
            Rp600.000,00 – (Rp300.000,00 + Rp240.000,00)     = Rp60.000,00
Pada volume produksi 6.000 unit perusahaan masih mendapatkan keuntungan. Ini berarti bahwa break-even pointnya terletak di bawah 6.000 unit.
Misalkan di ambil 4.000 unit, dan hasil perhitungannya adalah sebagai berikut:
(4.000 x Rp100,00) – Rp300.000,00 + (4.000 x Rp40,00)     =
            Rp400.000,00 – (Rp300.000,00 + Rp160.000,00)     = Rp-60.000,00
Pada volume 4.000 unit ternyata diderita  kerugian sebesar Rp60.000,00. Ini berarti bahwa break-even poinnya lebih besar dari 4.00 unit. Misalkan kita ambil 5.000 unit, dan hasil perhitungnnya adalah sebagai berikut:
(5.000 x Rp100,00) – (Rp300.000,00 + Rp200.000,00)         =
            Rp500.000,00 – (Rp300.000,00 + Rp200.000,00)     = Rp0,00.
Ternyata pada volume produksi/penjualan 5.000 unit tercapai break-even point yaitu yang di mana keuntungan netonya sama dengan nol.
22.4.    Perhitungan Break-Even Point dengan Menggunakan Rumus Aljabar
Perhitungan break-even point dengan menggunakan rumus aljabar dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a)      Atas dasar unit
b)      Atas dasar sales dalam rupiah.


a)      Perhitungan break-even point atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
di mana
P          = harga jual per unit
V         = biaya variable per unit
FC       = biaya tetap
Q         = jumlah unit/kualitas produk yang dihasilkan dan dijual.
Dari contoh 22.1. dapat dihitung secara langsung dalam unit dengan menggunakan rumus tersebut di atas dan hasilnya sebagai berikut.
(dalam unit)
Rumus tersebut pada dasarnya adalah penggunaan dari konsep “contribution margin” per unit (yaitu selisih antara harga jual per unit dengan biaya variable per unit).
Dari contoh tersebut “contribution margin” atau “contribution to fixed cost” per unitnya adalah Rp60,00 (yaitu Rp100,00 – Rp40,00). Karena besarnya biaya tetap yang harus ditutup adalah Rp300.000,00 sedangkan sumbangan dana setiap  unit produk untuk menutup biaya tetap sebesar Rp60,00 makauntuk menutup biaya sebesar Rp300.000,00 diperlukan jumlah produk yang harus terjual sebanyak
b)      Perhitungan break-even point atas dasar sales dalam rupiah dapat dilakukan dengan menggunakan rumus aljabar sebagai berikut:
Di mana:
FC                   =  biaya tetap
VC                  = biaya variable
S                      = volume penjualan.
Dari contoh 22.1. di muka, sales pada break-even dinyatakn dalam rupiah dapat dihitung dengan menggunakan rumus tersebut sebagai berikut:
                                        
Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa volume penjualan pada break-even dinyatakan dalam rupiah adalah sebesar Rp500.000,00. Apabila volume penjualan tersebut di bagi dengan harga jual per unit, hasilnya menunjukkan break-even point dalam unit.
rumus tersebut pada dasarnya adalah juga penggunaan konsep “Contribution margin” tetapi atas dasar persentase dari sales Persentase besarnya contribution margin dihitung dari sales dinamakan “Contribution margin ratio”. Dalam contoh tersebut besarnya contribution margin ratio adalah:
Atau 60%.
Contribution margin ratio sebesar 60% berarti bahwa setiap perubahan penghasilan penjualan menyebabkan perubahan “contribution to fixed cost” sebesar 60% dari perubahan penjualan tersebut.
Dalam analisa BEP perlu pula dipahami konsep “margin of Safety”. Besranya margin of safety dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Margin of safety =
Margin of safety merupakan angka yang menunjukkan jarak antara penjualan yang direncanakan atau dibudgetkan (budgeted Sales) dengan penjualan pada break-even. Dengan demikian maka margin of safety adalah juga menggambarkan batas jarak, di mana kalau berkurangnya penjualan melampaui batas jarak tersebut, perusahaan akan menderita kerugian.
Dari contoh 22.1. besarnya margin of safety dapat dihitung sebagai berikut:
angka margin of safety sebesar 50% menunjukkan kalau jumlah penjualan yang nyata berkurang atau menyimpang lebih besar dari 50% (dari penjualan yang direncanakan) perusahaan akan menderita kerugian. Kalau berkurangnya penjualan hanya 40% dari yang direncanakan, perusahaan belum menderita kerugian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makin kecilnya margin of safety berarti makin cepat perusahaan menderita kerugian dalam hal ada penurunan jumlah penjualan yang nyata.
Untuk membedakan batas penyimpanan yang dapat menimbulkan kerugian dinyatakan dalam angka absolute dan dalam angka relative, kadang-kadang digunakan dua macam istilah. Untuk batas penyimpangan yang absolute digunakan istilah “margin of safety” dan untuk penyimpangan dalam angka relative (dalam persentase dari sales) digunakan istilah “margin of safety ratio”. Untuk contoh tersebut di atas besarnya “margin of safety” adalah Rp500.000,00 dan besarnya “margin of safety ratio” adalah 50%.
22.5.    Efek Perubahan Faktor Terhadap BEP
1.      Efek Perubahan Harga Jual Per Unit dan Jumlah Biaya Tetap Terhadap BEP
Sebagaimana diuraikan di muka, dalam analisa BEP digunakan asumsi antara lain bahwa harga jual per unit tetap konstan. Sekarang bagaimana halnya kalau ada perubahan harga jual per unit (P)?
Apabila P naik maka ini akan mempunyai efek yang menguntungkan karena BEPnya akan turun. Dalam gambar BEP, titik break-even-nya akan bergeser ke kiri, yang berarti untuk tercapainya BEP cukup diperlukan jumlah produk yang lebih kecil.
Dari contoh 22.1. misalkan harga jual per unitnya naik dari Rp100,00 menjadi Rp160,00
Dengan adanya kenaikan P tersebut, BEPnya akan berubah menjadi lebih kecil baik dinyatakan dalam rupiah maupun dalam unit. BEP yang baru sesudah ada kenaikan harga tersebut dapat dihitung sebagai berikut:
BEP yang baru mengalami penurunan sebesar 20% dalam penjualan dinyatakan dalam rupiah atau 50% dinyatakan dalam unit yang terjual.
Pergeseran BEP dalam gambar nampak seperti di bawah ini.
Demikian pula sebaliknya kalau harga jual per unitnya turun, maka BEPnya akan makin besar baik dinyatakan dalam rupiah maupun dalam unit. Ini berarti bahwa untuk mencapai BEP diperlukan jumlah produk yang lebih banyak. Misalkan harga jual per unit turun dari Rp100,00 menjadi Rp80,00
BEP yang baru akan menjadi:
dalam analisa BEP juga digunakan asumsi bahwa jumlah biaya tetap secara totalitas adalah konstan. Apabila ada perubahan besarnya jumlah biaya tetap maka BEP-nya pun akan berubah.
Bertambahnya jumlah biaya tetap akan menaikkan BEP, demikian pula sebaliknya berkurangnya jumlah biaya tetap akan mengakibatkan turunnya BEP.
            Sekarang bagaimana halnya kalau perubahan sekaligus menyangkut perubahan harga jual per unit dan perubahan jumlah biaya tetap. Dari contoh 22.1. dimisalkan perusahaan akan memperbesar produksinya dari 10.000 unit menjadi 15.000 unit. Untuk dapat melaksanakan tambahan produksi tersebut diperkirakan aka nada tambahan biaya tetap sebesar Rp100.000,00. Harga jual per unit diperkirakan akan turun dari Rp100,00 menjado Rp90,00. Berapa besarnya BEP baru sesudah ada perluasan produksi?
Pemecahan:

2.      Efek Perubahan “Sales Mix” terhadap BEP
Salah satu asumsi dasar dalam analisa BEP bagi suatu perusahaan yang menghasilkan dua macam produk ayau lebih ialah tidak adanya perubahan dalam “sales-mix”nya. “sales-mix” menggambarkan perimbangan “sales revenue” antara beberapa macam produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
Apabila ada perubahan sales-mix, maka BEP-nya secara totalitas akan berubah. Untuk lebih jelasnya diberikan contoh sebagai berikut:
Contoh 22.2.
            Suatu perusahaan yang menghasilkan dua macam produk, yaitu produk A dan B, di mana data finansialnya nampak di bawah ini:
Produk A
Produk B
Total
Sales :
20.000 unit                 Rp200.000,00
V.C.60%                    Rp120.000,00
F.C.                            Rp  40.000,00
Biaya total                 Rp160.000,00
Keuntungan operasi  Rp   40.000,00

8.000 unit Rp200.000,00
(40%)       Rp   80.000,00
Rp   80.000,00
Rp160.000,00
Rp   40.000,00

Rp400.000,00
Rp200.000,00
Rp120.000,00
Rp320.000,00
Rp  80.000,00

Dari dana tersebut diketahui bahwa:
Sales Mix (A:B) = 1 : 1 yaitu 200.000 :200.000
Product mix = 2.5 : 1 yaitu 20.000 : 8.000
Sales Mix A : B = 1: 1
Sales produk A=1/2 X Rp240.000,00 = Rp120.000,00
produk mix A : B = 120.000 : 4.800 = 2,5 : 1
sesuai dengan ketentuan product mix tersebut diatas.
BEP dalam “multiple product” tidak berarti bahwa masing-masing produk harus dalam keadaan break-even. Dapat terjadi bahwa pada BEP  total, suatu produk menderita kerugian, dan produk lain mendapatkan keuntungan sehingga secara keseluruhan perusahaan tidak mendapatkan keuntungan ataupun kerugian. Dari contoh di atas keuntungan dan kerugian dari kedua macam produk adalah sebagai berikut:
Produk A
Produk B
Total
Sales                       Rp120.000,00
V.C. (60%)             Rp  72.000,00
F.C.                        Rp   40.000,00
Biaya Total            Rp 112.000,00
Keuntungan
Neto (kerugian)     Rp     8.000,00
                        Rp120.000,00
(40%)              Rp  48.000,00
                        Rp  80.000,00
                        Rp120.000,00

                       (Rp    8.000,00)
Rp240.000,00
Rp120.000,00
Rp120.000,00
Rp240.000,00

                Rp0

Bagaimana pengaruhnya terhadap BEPkalau ada perubahan “sales mix”
a)      Misalkan jumlah produk A bertambah dengan 50% sedeangkan jumlah produk B tetap tidak berubah. Perhitungan BEP nampak sebagai berikut:
Produk A
Produk B
Total
Sales
30.000 unit     Rp300.000,00
V.C.                Rp180.000,00
Biaya Total     Rp  40.000,00
Keuntungan    Rp220.000,00
Neto                Rp  80.000,00

8.000 unit Rp200.000,00
(40%)       Rp  80.000,00
                 Rp  80.000,00
                 Rp160.000,00
                 Rp  40.000,00

Rp500.000,00
Rp260.000,00
Rp120.000,00
Rp380.000,00
Rp120.000,00

Sales mix = 1.5 : 1
b)      Misalkan jumlah produk B bertambah dengan 50% sedangkan jumlah produk A tetap tidak berubah, perhitungan BEP-nya nampak sebagai berikut:
Produk A
Produk B
Total
Sales                       Rp200.000,00
F.C. (602/3)            Rp120.000,00
F.C.                        Rp  40.000,00
Biaya total              Rp160.000,00
Keuntungan neto    Rp   40.000,00
12.000 unit Rp300.000,00
(40%)         Rp120.000,00
                   Rp  80.000,00
                   Rp200.000,00
                   Rp100.000,00
Rp500.000,00
Rp240.000,00
Rp120.000,00
Rp360.000,00
Rp140.000,00

Sales mix = 1:1.5 atau 0,67 :1
Keadaan sebelum dan sesudah adanya perubahan “sales-mix” tersebut dapat diikhtisarkan sebagai berikut:

Sebelum ada perubahan
Produk A bertambah dengan 50%
Produk B bertambah dengan 50%
a)      Sales mix (A:B)
b)      Keuntungan neto
c)      Persentase perubahan keuntungan (bertambah-berkurang)
d)     BEP
  1 : 1
Rp80.000,00





Rp240.000,00
  1,5 : 1
Rp120.000,00




50%
Rp250.000,00
   0,67 : 1
Rp140.000,00




75%
Rp230.000,00

Analisa tersebut diatas menunjukkan bahwa lebih baik perusahaan memperbanyak jumlah produk B, karena dengan bertambahnya jumlah produk B, (1) keuntungannya lebih desar dan (2) break-even point-nya lebih rendah.
22.6.    Penentuan Penjualan Minimal
            Apabila kita telah menetapkan besarnya keuntungan atau profit margin yang diinginkan, maka perlulah ditentukan berapa besarnya penjualan minimal yang harus dicapai untuk memungkinkan diperolehnbya keuntungan yang diinginkan tersebut.
Untuk itu dapat diberikan contoh sebagai berikut:
Contoh 22.3.
            Pada tahun 1985 suatu perusahaan adalah ”break-even”. Perusahaan bekerja dengan biaya tetap sebesar Rp 120.000,00 dan dalam tahun tersebut mempunyaipenghasilan penjualan sebesar Rp200.000,00. Keadaan tahun 1986 diperkirakan lebih baik dan pimpinan perusahaan menetapkan target keuntungan sebesar Rp30.000,00. Berapa besarnya penjualan minimal yang harus dicapai untuk dapat mencapai target keuntungan tersebut?
Dalam keadaan BEP besarnya biaya total adalah tepat sama besarnya dengan penghasilan oenjualan
Sales    = VC + VC
VC      = sales – FC
VC      = Rp200.000,00 – Rp 120.000,00 = Rp80.000,00
Variable expense ratio (biaya variable dinyatakan dalam persentase dari sales)
Setelah diketahui besarnya “variable expense ratio” maka dapatlah ditentukan besarnya sales minimal tersebut dengan cara sebagai berikut:
Jadi untuk memperoleh keuntungan sebesar Rp30.000,00perusahaan harus dapat memproduksi dan menjual produknya sebesar Rp250.000,00
Dibuktikan:
Penjualan                                                                                                         Rp250.000,00
Biaya variable (40%)                           Rp100.000,00
Biaya tetap                                          Rp120.000,00
Biaya Total                                                                                          Rp220.000,00
Keuntungan                                                                                        Rp30.000,00

Misalkan perusahaan menetapkan target keuntungan dinyatakan dalam “profit margin” sebesar 20%, maka besarnya sales minimal dapat dihitung sebagai berikut:
Sales minimal = x
0,6 x – 0,2 x = Rp120.000,00
0,4 x = Rp120.000,00                                                 x = Rp300.000,00
Atau dengan cara:
= Rp300.000,00
Dibuktikan:
Penjualan                                                                                                                     Rp300.000,00
Biaya variable (40%)                                       Rp120.000,00
Biaya tetap                                                      Rp120.000,00
Biaya total                                                                                                                   Rp240.000,00
Keuntungan                                                                                                                Rp  60.000,00




DAFTAR PUSTAKA


Riyanto, Bambang.1997.(Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan) Yogyakarta:BPFE Yogjakarta.


1 komentar:

  1. Halo mbk netha sy boleh minta kontaknya ga..? Sy ada perlu untuk referensi skripsi

    BalasHapus